5 Rasio Analisis Fundamental Saham

(Last Updated On: 24 November 2018)

Rasio Analisis FundamentalSebagai investor saham pasti anda sudah sering menganalisis laporan keuangan dari suatu emiten. Namun sadarkah anda sebenarnya ada cara lebih mudah dalam menganalisis kesehatan fundamental suatu emiten. Oleh karena itu, artikel kali ini akan membahas tentang 5 Rasio Analisis Fundamental Saham yang dapat membantu anda lebih mudah dalam menganalisis sebuah perusahaan.

Bagi anda yang ingin mengenal apa itu analisis fundamental bisa membaca di:

Sebenarnya ada cukup banyak rasio yang bisa digunakan dalam melakukan analisis fundamental saham. Namun saya hanya akan membahas 5 Rasio Analisis Fundamental Saham yang paling banyak digunakan oleh investor di seluruh dunia.

Dengan adanya rasio-rasio dalam analisis fundamental akan membantu anda semua dalam menganalisis suatu perusahaan tanpa perlu membaca laporan keungannya.

Hal ini akan membantu anda yang baru mula mencoba untuk menjadi investor saham. Saya sendiri pun merasa terbantu dengan adanya rasio ini di awal masuknya saya ke dunia investasi saham.

Tidak perlu berlama-lama lagi. Mari kita bahas apa saja rasio analisis fundamental saham yang paling sering di gunakan.

5 Rasio Analisis Fundamental Saham:

1.EPS (Earning Per Share)

Rasio ini sangat penting untuk diperhatikan karena memberikan informasi tentang laba bersih yang diperoleh per lembar sahamnya.

EPS didapatkan dengan rumus:

Earn Per Share = (Laba bersih – Pajak – Dividen)/ Jumlah saham beredar

Biasanya EPS yang tinggi menunjukan kemampuan suatu perusahaan untuk menghasilkan laba yang besar sehingga mencerminkan kesehatan perusahaan yang baik.

Namun EPS yang tinggi tidak selalu menunjukan laba perusahaan yang besar namun bisa juga dipengaruhi oleh jumlah saham beredar yang sedikit.

Oleh karena itu sebaiknya EPS tetap dipadukan dengan rasio analisis fundamental lainnya dalam menentukan keputusan untuk membeli sebuah saham.

INTI :

EPS ⇑ : Perusahaan memiliki laba yang lebih besar (BAIK)

EPS ⇓ : Laba perusahaan biasanya tidak terlalu besar (KURANG BAIK)

2. PER (Price Earning Ratio)

PER merupakan turunan dari EPS. PER menunjukan perbandingan harga saham sekarang dengan laba bersih perusahaan per lembar sahamnya (EPS)

Jadi rumus dari PER adalah:

PER = Harga Saham Terakhir / EPS

PER sering menjadi dasar acuan seorang investor untuk membeli sebuah saham. Rasio ini menjadi sangat penting karena memberikan informasi terkait nilai wajar suatu perusahaan.

PER yang rendah sering menarik para value investor untuk membelinya karena PER yang rendah menunjukan laba yang tinggi bila dibandingkan dengan harga sahamnya. Saham dengan PER rendah sering diprediksi untuk mengalami kenaikan harga hingga berada di daerah wajarnya.

Sebaliknya, PER yang sudah cukup tinggi menunjukan bahwa harga suatu saham sudah bisa disebut mahal. Sehingga kurang menarik bagi value investor.

Kapan PER suatu perusahaan disebut tinggi dan rendah ?

Untuk menentukan PER suatu perusahaan dapat dilakukan dengan cara membandingkan PER perusahaan tersebut dengan PER perusahaan sejenisnya. Melalui proses perbandingan ini anda dapat melihat perusahaan mana yang memimpin di bidang tersebut.

Jadi PER juga bisa memperlihatkan siapa pemimpin pasar pada suatu sektor. Investor yang pintar akan menghindari berinvestasi pada suatu perusahaan yang PER nya sudah cukup tinggi kecuali ada pertimbangan lain.

INTI:

PER ⇑ :Menunjukan Harga Saham sudah tergolong mahal dan kurang cocok untuk investasi.

PER ⇓ :Menunjukan Harga Saham masih murah dan cocok untuk investasi jangka panjang.

3. PBV (Price to Book Value)

PBV juga ditujukan untuk menentukan nilai wajar suatu saham. Perbedaan mendasar dibandingkan dengan PER adalah PBV berfokus pada ekuitas suatu perusahaan dibandingkan dengan laba bersih yang dihasilkan.

Yang perlu diketahui pertama oleh anda semua adalah arti dari Book Value. Book Value adalah nilai ekuitas per lembar sahamnya.

PBV didapatkan dengan rumus:

PBV = Harga Saham Terakhir/ Nilai buku per lembar sahamnya

Biasanya investor membandingkan PBV suatu saham dengan PBV saham sejenis atau dengan menggunakan suatu acuan tetap, contohnya:

PBV > 1 : Maka harga saham tersebut sudah berada diatas nilai wajarnya (Overvalue)

PBV < 1 : Maka harga saham tersebut berada di bawah harga wajarnya (UnderValue)

Walaupun demikian tidak semua saham yang memiliki PBV < 1 layak disebut dengan saham yang layak investasi. Namun bisa saja menunjukan bahwa fundamental saham tersebut sudah tidak baik dan tidak berpotensi berkembang lagi.

Banyak analis yang berpendapat bahwa penggunaan PBV sudah tidak relevan lagi. Namun bagaimanapun kehadiran PBV tidak dapat dielakan oleh seluruh investor.

Investor yang cerdas akan memadukan penggunaan PBV untuk menentukan nilai wajar sebuah saham dengan rasio lainnya seperti PER (Price Earning Ratio)

INTI :

PBV > 1 : Maka harga saham tersebut sudah berada diatas nilai wajarnya (Overvalue)

PBV < 1 : Maka harga saham tersebut berada di bawah harga wajarnya (UnderValue)

4. ROE (Return on Equity)

ROE merupakan indikator penunjuk tingkat keuntungan anda selama berinvestasi di suatu saham. Kelemahan ROE adalah tidak dimasukannya hutang ke dalam penghitungannya. Namun ROE tetap bisa menjadi rasio penting dalam melihat kesehatan fundamental suatu saham.

ROE didapat dengan rumus:

ROE = Laba bersih/ Total Ekuitas

Dengan berinvestasi pada perusahaan yang memiliki rasio ROE yang tinggi diharapkan dapat memberikan imbal balik yang tinggi.

Investor biasanya memilih perusahaan yang memiliki ROE yang tinggi karena itu mencerminkan keefektifan suatu perusahaan dalam mengelola modalnya sehingga bisa menghasilkan laba yang besar.

Biasanya ROE dibandingkan dengan perusahaan pada sektor yang sama atau sering juga dibandingkan dengan periode-periode sebelumnya. Dengan membandingkan ROE pada periode sebelumnya maka investor dapat mengetahui kualitas kinerja perusahaan.

INTI:

ROE ⇑ : Suatu saham efektif dalam mengelola modalnya sehingga bisa disebut perusahaan berfundamental baik

ROE ⇓ : Suatu saham kurang bisa efektif dalam mengelola modal yang ditanamkan oleh investor sehingga patut dipertanyakan apa adanya masalah di dalam manajemennya.

5. DER (Debt to Equity Ratio)

Pasti semua dari anda setidaknya pernah memiliki hutang. Memiliki hutang bukanlah hal yang buruk selama masih dalam batas yang wajar.

Biasanya perusahaan akan berhutang untuk mengembangkan bisnis dan mendorong kinerja perusahaan. Melalui rasio ini maka para analisis dapat menentukan batas wajar dari hutang suatu perusahaan.

Hutang yang terlalu besar dapat menjadi resiko bagi suatu perusahaan. Oleh karena itu, DER menjadi rasio yang penting untuk diperhatikan oleh para investor.

DER didapat dengan rumus:

DER = Total Hutang/ Total Ekuitas

Biasanya para investor menggunakan acuan tetap dalam menilai kesehatan hutang suatu perusahaan.

DER > 1 : Berarti hutang suatu perusahaan lebih besar daripada ekuitasnya. Hal ini wajib diwaspadai

DER < 1 : Berarti hutang suatu perusahaan lebih kecil daripada ekuitasnya. Hal ini menunjukan bahwa jumlah hutang masih dapat ditoleransi.

Namun sebenarnya DER dari setiap sektor perusahaan berbeda-beda. Seperti contohnya DER dari saham sektor perbankan biasanya lebih besar daripada 1 karena biasanya dana yang dikelola berasal dari pihak ke-3 dan digolongkan sebagai hutang.

Perusahaan yang memiliki DER yang tinggi juga biasanya kurang aktif dalam membagikan dividen. Hal ini tentu sangat berpengaruh terhadap keuntungan para investor jangka panjang. Oleh karena itu ada baiknya memilih perusahaan yang memiliki DER rendah.

INTI:

DER ⇑ : Hutang perusahaan diatas ekuitasnya, patut diperhatikan kemampuan perusahaan dalam membayar hutangnya.

DER ⇓ : Hutang perusahaan masih di dalam batas wajarnya, sehingga di prediksi tidak akan ada masalah bagi perusahaan dalam membayar hutangnya.

Selesai sudah pembahasan terkait 5 Rasio Analisis Fundamental yang sering digunakan oleh para investor dalam menganalisis suatu saham.

Semoga artikel ini dapat membantu anda dalam menganalisis suatu saham menggunakan rasio analisis fundamental yang telah dijelaskan diatas.

Terima Kasih

Ayo Bagikan Informasi ini :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *