Intermezo : Puisi Toleransi Bunga-Bunga Perkasa

(Last Updated On: 5 Juli 2018)

Disaat kondisi pasar menjadi kurang menentu ada baiknya kita sejenak merenungkan hal lain yang ada di sekitar kita.

Mungkin dengan puisi toleransi singkat ini mampu memberikan sedikit kelegaan untuk anda semua

Bunga-Bunga Perkasa

Di tengah taman cerah

bunga perkasa indah memegah.

Warna-warni gradasi

kreasi Sang Ilahi

serasi menghias bumi.

 

Andai kumengerti

wahai melati putih,

mengapakah engkau berseri?

 

Andai kutahu

wahai tulip ungu,

kapankah kelopakmu malu?

 

Andai kumarah

wahai mawar merah,

akankah kelopakmu cerah?

 

Sulur-sulur menari

menerabas sanubari

yang terluka akibat persoalan sana sini.

 

Dimanakah taman cerah itu?

Tempat bunga indah memegah

warna-warni gradasi

berpadu dalam dekapan Ibu Pertiwi.

 

Sepanjang mata memandang

bukan taman cerah tetapi taman kerontang.

Bunga-bunga perkasa bersuara lantang

dengan berani menantang.

Menuntut keadilan bagimu

adilkah bagiku?

 

Saling mendesak dengan durimu,

menghujam dengan kelopak dan mahkota indahmu.

Mawar merah meyerang melati putih,

tulip ungu diam membisu malu.

Bunga layu seiring berjalannya waktu.

Taman cerah berganti kuburan layu.

 

Sadarkah?

Wahai bunga-bunga perkasa,

Sang Ilahi menganugrahimu warna yang berbeda

bukan penghalang hidup bersama.

 

Rawat warna-warnimu

untuk hidup bersatu padu.

Gugurkan duri-durimu

supaya kalian dekat bersatu.

Jaga kelopak dan mahkota indah itu

supaya taman cerah tak hilang dimakan waktu.

Karya: Christofer Edgar

Ayo Bagikan Informasi ini :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *